Ada
sebuah kapal bernama AlBanna yang mempunyai satu orang nahkoda dan 3 orang
asisten. Kapal AlBanna juga memiliki 8 staf yang terdiri dari staf Kaderisasi yang bertugas melatih para ABK agar
memiliki mental dan fikrah yang syumul (menyeluruh) tentang perjalanan jihad
yang akan mereka lakukan di lautan dakwah. Sehingga, mereka dapat menjalaninya
dengan tangguh.
Ada
pula staf Syiar dan Pelayanan yang bertugas
untuk memotivasi para ABK untuk mengajak orang lain bergabung di kapal ini dan
melakukan pelayaran bersama mereka. Serta melayani dan memfasilitasi para ABK
dalam usaha mengajak orang lain tersebut. Kemudian ada staf
Keuangan yang bertugas mencari cara agar dapat terus membiayai pelayaran
mereka, sebab dalam pelayaran ini mereka membutuhkan nutrisi jasadiyah dan
ruhiyah yang harus dibeli dari bengkel pengetahuan/pelatihan untuk para staf
dan ABK, serta dana untuk melakukan kegiatan lain demi menarik orang luar.
Tak
ketinggalan, ada staf Akademik dan Profesi yang
bertugas memperhatikan prestasi para ABK demi lancarnya pelayaran dan
kesejahteraan mereka nantinya. Lalu, ada staf
Kesekretariatan yang bertugas mengurusi kebutuhan logistik kapal.
Memastikan semua perlengkapan yang ada di kapal lengkap dan baik selama pelayaran.
Ada juga staf Pengembangan Sumber Daya Manusia
yang bertugas menampung setiap kreatifitas ABK selama pelayaran. Agar dalam
pelayaran, mereka yang telah merasa jenuh dapat ‘disegarkan’ kembali.
Setelah
itu ada staf BMQ yang tugasnya menyeleksi dan
menempatkan orang2 yang akan menjadi para ABK sesuai dengan tingkat
pemahamannya tentang lautan dakwah dan kesanggupan mereka dalam mengarunginya.
Dan yang terakhir ada Staf FSLDK yang berfungsi
untuk menjalin komunikasi dengan kapal2 lain yang juga berlayar mengarungi
samudera kehidupan dan lautan dakwah.
Namun,
masalah mulai muncul ketika para staf kapal AlBanna mulai melupakan pentingnya
amal jama’i. Suatu hari staf Kaderisasi meminta
staf2 lain untuk membantunya dalam acara PMDK
(Pelatihan Manajemen Dasar Kapal) yang tujuannya untuk memberi pelatihan
pada ABK tentang seluk-beluk kapal AlBanna dan tujuan dari pelayaran mereka.
Tapi, staf yang lain dengan enggan menjawab “Lho, itu
kan progja staf Kaderisasi? kami bisa bantu sich, tapi cuma sedikit afwan ya…”
dan acara itu pun tidak maksimal karena banyak yang harus dikerjakan, sementara
staf lain malah bingung mau mengerjakan apa. Ironis.
Di
lain waktu, dari staf Syiar dan Pelayanan ingin
mengadakan agenda LMT yang ingin memberi pelatihan pada orang luar demi membangun
jiwa kepemimpinan mereka untuk dapat bergabung dalam pelayaran ini, meski
nantinya tak harus jadi ABK AlBanna. Namun, kembali staf yang lain
menanggapinya dengan setengah hati. Mereka berkata “staf
Syiar kan banyak, pasti sudah ada yang handle. Afwan ana nggak bisa ikut
karena………” (puluhan alasan terlontar, entah syar’i atau tidak). Dan
hasilnya acara itu berantakan karena staf lain, bahkan ada anggota staf syiar
memilih untuk istirahat di masing2 kabin kapal dengan nyaman. Ironis.
Bulan
selanjutnya staf Keuangan meminta nahkoda untuk
singgah sebentar di pulau asing demi melihat peluang bisnis, sebab pundi2 uang
mereka telah menipis sementara pelayaran masih jauh. Namun, saat staf Keuangan meminta staf2 lain untuk membantunya
berniaga, mereka menyahutinya denagn antusias “Tenang
aja…nanti kami bantu koq…” kenyataannya, staf
Keuangan sibuk menggelar perniagaan dan melayani pembeli seorang diri.
Kemana perginya staf lain?? Oh...mereka sibuk menjelajahi tempat lain dan
ngerumpi. Padahal awal tadi mereka menyanggupi. Ironis.
Seminggu
kemudian, giliran staf Akademik dan Profesi
mengadakan rapat khusus untuk membahas PLATINUM (Pelatihan Intensif Untuk Mesin) agar
nantinya para ABK terampil dalam teknologi mesin kapal AlBanna. Namun, staf
yang lain hanya berkata “kami datang rapat koq, tapi
Insya Allah lho….” (entah Insya Allah yang dimaksud Insya Allah datang
atau Insya Allah tidak datang, waallahu alam). Akhirnya, rapat berlangsung
hening karena yang datang hanya segelintir. Ironis.
Lalu,
staf Kesekretariatan meminta bantuan staf lain
untuk ikut membersihkan ruang penyimpanan barang2 logistik mereka dan
mendatanya. Staf2 lain meminta maaf “Afwan ya, nggak bisa
bantu…kami masih ada kerjaan di masing2 staf…” alhasil, ruang
penyimpanan mereka belum beres sepenuhnya dan pendataan barang pun kurang
akurat. Sedangkan staf2 itu justru menggerutu saat barang logistik yang mereka
butuhkan tidak ada. Dan staf Kestari hanya mampu mengurut dada.
Tibalah
saat staf BMQ meminta bantuan para staf untuk mengawasi ujian para ABK yang ingin bergabung dalam
pelayaran mereka. Staf lain hanya mengangguk, tak berkata apa-apa. Staf BMQ
menganggapnya sebagai persetujuan untuk membantu. Namun, saat hari H para calon
ABK membludak sementara staf BMQ tersentak. Sebab hanya beberapa orang perwakilan
staf lain yang hadir. Kemana sisanya?? Mereka hanya titip salam dan doa “Salam ya…semoga sukses dan diperlancar…” bagaimana
bisa lancar jika peserta ujian puluhan orang, sementara pengawasnya dapat
dihitung satuan???. Ironis.
Lalu
menyusul staf PSDM yang ingin mengadakan rapat
tentang agenda mereka. Namun staf lain justru dengan enteng berucap “ Ini rapat PSDM kan..??” lantas mereka segera
menyingkir dari rapat tersebut. Hasilnya rapat PSDM hanya dapat beberapa
pertemuan karena personil staf yang datang hanya satu-dua orang.
Yang
terakhir staf FSLDK yang meminta staf lain untuk
ikut bersilaturahim ke kapal lain. Dan para staf menjawab “Oow…yang di undang kan staf FSLDK, jadi afwan kami gak bisa
datang. Tolong diwakilkan dan titip salam saja ya…” hasilnya, staf FSLDK
AlBanna hanya mampu nyengir kuda saat staf dan para ABK kapal lain bertanya
mana undangan dari AlBanna lainnya???
Dan
sang nahkoda pun bingung saat mendengar laporan para staf akan keengganan
rekan2nya dalam membantunya. Sebenarnya masalah yang mereka alami memiliki
penyebab yang sama yakni kurangnya kerjasama antar staf, hanya saja masing2
dari mereka tak mau disalahkan. Rapat istimewa pun digelar oleh sang nahkoda, 3
orang asistennya, dan seluruh staf beserta ABK.
Akhirnya
karena keegoisan pribadi masing2 staf, sehingga diputuskan agar tidak terjadi
perselisihan lebih lanjut maka dilakukan pembubaran staf dan kapal AlBanna
dikaramkan saja… akhir yang tragis bagi kapal besar bernama AlBanna!
Ikhwah
Fillah… kisah dia atas bukanlah dongeng sebelum tidur, melainkan suatu
kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada UKM tercinta kita. Bila kita
dengan tegas menjawab “Itu berlebihan, karena Mustahil AlBanna dibubarkan!”
kami hanya mengingatkan betapa seringnya kita meninggalkan agenda atau rapat
dengan alasan sibuk, malas atau bahkan karena itu bukan progja departemen kita.
Betapa seringnya kita acuh saat ada rekan kita yang sibuk mengejar deadline
progjanya sementara kita hanya duduk manis menontonnya. Dan betapa seringnya
kita dongkol karena kurangnya respon teman2 kita dalam menjalankan suatu agenda
yang padahal itu demi kemajuan AlBanna. Jika yang terjadi diantara kita “selaku
kader AlBanna” saling melempar tanggung jawab, lebih senang bekerja infirodi
dan menafikan amal jama’i, masih tetap mustahilkah AlBanna dibubarkan??? Atau
justru timbul pertanyaan yang lemih mengenaskan, masih sanggupkah AlBanna
bertahan???
Ikhwah fillah…
sesungguhnya AlBanna adalah tempat .. Bersambung
..
By : Ketua MPM Ulul Albaab Fisip Unhalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar