"Ghemana Zhych batasan pergaulan antara Ikhwan (Laki-laki) dan Akhwat (Perempuan) dalam pandangan islam...?" Tanya Seorang Ikhwan kepada Murobbinya.
"Dia Ikhwan ya, tapi kok kalo bicara sama Akhwat deket banget zhych...? Ada apa nih....? Ehhhhmmmmmm...." Tanya seorang Ikhwan kepada temennya soalnya ia sering ngeliat Aktivis Dakwah Kampus yang bila berbicara sama lawan jenis serasa deket banget.
"Duh.. Ghemana ya... Akhwat itu kok klo ingin curhat pasti sama Ikhwan....??? Ow.. Ow.. Cemburu deh kalo ghyni... "
Duuuuhhhh... Ngeri banget yeee... Ikhwan-Akhwat bicaranya sangat deket...
"Ana (Saya) heran deh... ngeliat beberapa Aktivis Dakwah 'Pemberani' yang rapat satu Ikhwan dan Satu Ikhwan padahal kan masih banyak Ikhwan atau Akhwat yg laen yang bisa diajak curhatan..." Kata seorang Akhwat di Facebook...
Demikianlah problem yang sering dipertanyakan.Pelanggaran batas-batas pergaulan antara Ikhwan dan Akhwat yang kerap kali kita liat, en hal itu bisa disebabkan karena..:
1. Sama sekali blom mengetahui batasan-batasan pergaulan Ikhwan-Akhwat
2. Udah tau tapi tak memahami
3. Udah tau tapi tak mau mengamalkannya
4. Udah tau en paham namun tergelincir karena lalai.
En bisa jadi kejadia itu disebabkan karena kite masih sibuk menghiasi penampilan luar kite dengan jilbab lebar wana warni ato berjenggot dan bercelana tergantung... Namun kite lupa menghiasi Akhlaq kite.. Kite sibuk berhiaskan simbol-simbol islam namun lupa akan subtansi islam.
Sesungguhnya panggilan "Ikhwan" en "Akhwat" ntu adalah panggilan persaudaraan. "Ikhwan" artinya adalah saudara laki-laki, dan "akhwat" adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup Aktivis Dakwah Kampus, ada dikotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-'ikhwanan'-nya atau ke-'akhwatan'-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.
Aktivis sekuler tak lagi segan......
Seorang Ikhwan membaca suatu Artikel bahwa para aktivis sekuler tidak lagi segan sama Aktivis Dakwah Kampus.. "Dulu kami segan sama Aktivis Dakwah Kampus karena mereka masih menjaga batasan pergaulannya antara Ikhwan en Akhwat tapi kini udah mulai pudar mhy hal itu... Jadi yaa, kami udah tak segan lagi sama ajha dengan kami"
Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.
Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.
Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat...
Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi, dan jangan sampai meningkat pada tahap berpacaran:
1. Rapat Berhadap-Hadapan alias berdua-duaan
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya – bila belum mampu menggunakan hijab – dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat. Ato rapat tiap hari berdua-duaan Ikhwan-Akhwat... Sungguh aneh bin ajaib.
2. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadzhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, ”Ah, tidak perlu gadzhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
3. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah Aktivis Dakwah berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.
4. Telfon Tidak Urgen
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.
5. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.
6. Berbicara Mendayu-Dayu
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, ”Ah, tidak perlu gadzhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
3. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah Aktivis Dakwah berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.
4. Telfon Tidak Urgen
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.
5. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.
6. Berbicara Mendayu-Dayu
“Deuu si akhiii, antum bisa aja deh…..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.
7. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh .“ Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.
8. Curhat
“Duh, bagaimana ya…., ane bingung nih, banyak masalah begini … dan begitu, ukh….” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.
9. Maen FB-an Yang Tidak Urgen
Facebook termasuk fasilitas yang semakin maju di masa kini. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan status penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.
10. Bercanda ikhwan-akhwat
“Biasa aza lagi, ukhtiii… hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan. "iiiiiihhhhhh Unyu-Unyu deh".
7. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh .“ Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.
8. Curhat
“Duh, bagaimana ya…., ane bingung nih, banyak masalah begini … dan begitu, ukh….” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.
9. Maen FB-an Yang Tidak Urgen
Facebook termasuk fasilitas yang semakin maju di masa kini. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan status penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.
10. Bercanda ikhwan-akhwat
“Biasa aza lagi, ukhtiii… hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan. "iiiiiihhhhhh Unyu-Unyu deh".
Dalil-dalil yang melarang kite berdua-duaan (antara Ikhwan en Akhwat)
1. Dalil pertama, Hadits Rasulullah:
عن ابى هريرة رضى الله عنه عن النبى ص م قال : كتب على ابن ادم نصيبه من الزنامد رك ذلك لا محالة، العينان زناهما النظر، والأذنان زناهما الاستماع واللسان زناه الكلام، واليدزنا ها البظش، والرجل زناها الخطى، والقلب يهوى ويتمنى ويصدق ذلك الفرج اويكذبه. (متفق عليه وهذا لفظ مسلم ورواية البخارى محتصرة).
"Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw, beliau bersabda:” Telah ditentukan bagi anak Adam (manusia) bagian zinanya, dimana ia pasti mengerjakannya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memukul, zina kaki adalah berjalan serta zina hati adalah bernafsu dan berangan-angan, yang semuanya itu dibuktikan atau tidak dibuktikan oleh kemaluan. (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Dalil Kedua, Hadits Rasulullah
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إياكم والدخول على النساء. فقال رجل من الأنصار : يارسول الله ! أفرأيت الحمو؟ قال : الحموالموت.]
“Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Janganlah kamu masuk ke kamar-kamar perempuan. Seorang laki-laki Anshar berkata: Ya Rasulullah terangkanlah padaku bagaimana hukum masuk ke dalam kamar ipar perempuan. Nabi saw menjawab: Ipar itu adalah kematian (kebinasaan).” (Al Bukhary 67:111; Muslim 39:8; Al Lu’lu-u wal Marjan 3: 69-70).
Wahai saudaraQu, Afwan jiddan jika ada yang tersinggung dengan kata-kata penulis diatas..
Allah maha melihat apa yang telah kita lakukan tiap detiknya...
Hal ini bukan hanya kite gunakan dikalanagan Aktivis dakwah saja, namun dengan orang-orang yang bukan Aktivis Dakwah pun juga senantiasa kite terapkan...
Hal ini bukan hanya kite gunakan dikalanagan Aktivis dakwah saja, namun dengan orang-orang yang bukan Aktivis Dakwah pun juga senantiasa kite terapkan...
SaudaraQu.. Allah nggak buta dengan perbuatan kita, en kita pasti akan mempertanggungjawabkannya di Akherat kelak...
"Sadarlah en bertaubatlah wahai SaudaraQu...
Allah maha pengampun....
Salam Ukhuwah Buat saudara-saudaraQu....!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar